Kisah Pilu Sang Bocah Penjual Gorengan, Asal Desa Cipeundeuy Surade Sukabumi

1000953355 01

ONENEWSOKE.com

SUKABUMI, – Usai penelusuran kisah Kang Ato asal Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi, yang akhirnya mendapat tanggapan positif dari semua pihak, awak media onenewsoke.com pun, langsung melakukan penelusuran kembali kisah perjuangan sang bocah Murtagil dan adiknya Muhdanil yang membantu perekonomian orang tuanya asal Desa Cipeundeuy Surade.

IMG 20240422 131357

Diketahui, Murtaqil Apham (12) dan adiknya Muhdanil Asrol (9) masing-masing siswa kelas 6 dan Kelas 2 SDN 2 Cipeundeuy asal Kampung Cicariu, RT 08 RW 03 Desa Cipeundeuy Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi berjualan makanan gorengan keliling demi membantu ekonomi keluarga di tengah kesulitan ekonomi.

Murtaqil Apham sapaan akrabnya Abang dan adiknya sudah hampir 6 tahun berjualan gorengan keliling untuk membantu ekonomi orangtuanya yang memang dalam kondisi yang serba kekurangan

Sang ayah sendiri yang merupakan guru mengaji dan tidak punya pekerjaan yang menentu cuma bekerja serabutan, Ia kemudian berinisiatif untuk membantu sang ibu untuk berjualan hasil olahan pasakannya.

“Ibu kadang membuat kue gorengan, seperti, bala-bala, pisang goreng, odading, dan kue donat. Saya bantu menjualkan secara keliling dengan berjalan kaki,” ujarnya, saat ditanya ketika sedang berjualan di salah satu rumah warga, pada Senin (22/4/2024).

Setiap pagi, ia memanfaatkan waktu keliling jualan bala-bala, odading dan donat itu sebelum berangkat ke sekolah, seusai jualan kemudian berangkat ke sekolah.

Ia berangkat sekitar pukul 06-00 WIB, kemudian keliling berjualan hingga pukul 07-15 WIB setiap hari. Kadang Sepulang sekolah ia mengambil lagi hasil olahan ibunya untuk dijual keliling hingga sore hari.

Perbiji, oleh Apham gorengan dijual dengan harga Rp 1000,- per bijinya

Jika dagangannya laku semua, Apham bisa mendapatkan uang sebesar Rp 100 hingga 120 ribu rupiah dalam satu sekali keliling. Namun jika sepi biasanya ia hanya membawa pulang uang sebesar 70 ribu atau kadang kurang dari itu.

Semua hasil jualannya itu di serahkan pada ibunya. Ia ingin membantu orang tua yang memang kesulitan ekonomi.

“Uangnya saya kasih ke ibu semua. Untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk di belanjakan kembali, Saya ya ambil Rp 5000/7000 ribu untuk menabung dan untuk jajan di sekolah,”ungkapnya dengan sedikit malu-malu

Dua bocah yang bercita-cita ingin jadi ustadz/pendakwah ini menyebutkan bahwa kedepannya keadaan ekonomi keluarganya ada perubahan lebih maju, harapnya.

Salah satu guru SDN 2 Cipeundeuy, Iman Suhud S.Pd, yang sedang berkunjung ke rumah temannya di kampung Cicariu dan mengetahui Apham sedang berjualan dia sangat terharu hingga meneteskan air mata sambil mengelus-ngelus kepala Apham, dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan Apham murid sekolahnya itu berjuang untuk keluarga.

Ada semangat dan kerja keras yang diajarkan dari sosok Apham dalam membantu kedua orang tua yang tengah kesulitan.

“Kerja keras, menjadi referensi yang diberikan oleh seorang Apham untuk bisa memberi kontribusi pada keluarga. Meskipun anak-anak ini belum boleh bekerja dan harus fokus belajar, namun kegigihan Apham ini patut untuk kita apresiasi bersama,” kata Iman Guru SDN 2 Cipeundeuy.

Iman kemudiaan berpesan pada Apham,” terus belajar terus semangat. Jika tekun belajar dan ulet berdagang Insya Allah kelak Apham bisa sukses dan jika Allah mengizinkan siapa tahu Apham bisa punya toko sendiri, jelasnya.

Ia berpesan pada Apham, meski rajin membantu orang tua, namun ia tak boleh lengah untuk tetap semangat belajar. Iman meminta Apham untuk membagi waktunya kapan belajar dan kapan membantu orang tua. Karena di usia Apham saat ini, tetap nomor satu yang menjadi prioritas adalah pendidikan.”tandasnya.

Editor: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *